Sabtu, 07 Februari 2026

Mengapa Ilmu Ruqyah dan Terapi Energi Ada yang Berbayar? Penjelasan Bijak Menurut Islam, Adab Ilmu, dan Realita Praktik Penyembuhan


Mengapa Ilmu Ruqyah dan Terapi Energi Ada yang Berbayar? Penjelasan Bijak Menurut Islam, Adab Ilmu, dan Realita Praktik Penyembuhan

Pendahuluan: Pertanyaan yang Sering Disalahpahami

Di tengah maraknya praktik ruqyah, terapi energi, healing spiritual, dan pelatihan pengobatan islami, muncul satu pertanyaan yang sering terdengar:

“Kalau ilmunya dari Allah, kenapa harus berbayar?

Kenapa tidak digratiskan saja?”

Pertanyaan ini terlihat sederhana, namun sesungguhnya menyimpan ketidaktahuan tentang adab ilmu, sejarah keilmuan Islam, dan realitas tanggung jawab seorang pengajar.

Artikel ini tidak ditulis untuk membela satu pihak, melainkan meluruskan pemahaman, agar masyarakat tidak tergelincir pada prasangka, su’udzon, dan penghakiman yang keliru.


Ilmu Penyembuhan dalam Islam: Cahaya yang Membutuhkan Wadah

Dalam Islam, ilmu adalah cahaya (nur).

Namun cahaya tidak berdiri sendiri, ia membutuhkan:

Wadah

Penjaga

Penuntun

Amanah

Allah berfirman bahwa Dia meninggikan derajat orang berilmu. Namun derajat tinggi selalu disertai tanggung jawab besar.

Ilmu penyembuhan—baik ruqyah, terapi energi, maupun pengobatan spiritual—bukan sekadar bacaan atau teknik, melainkan:

Amanah terhadap keselamatan jiwa

Tanggung jawab terhadap akidah

Risiko kesalahan yang bisa berakibat fatal


1. Ilmu Penyembuhan Tidak Datang Seketika

Seorang praktisi ruqyah atau terapis energi tidak lahir dalam semalam.

Di balik seseorang yang mengajar, sering tersembunyi:

Bertahun-tahun belajar

Riyadhah (latihan batin)

Bimbingan guru yang ketat

Kesalahan, luka, dan proses penyadaran diri

Pengalaman menghadapi berbagai kondisi pasien

Semua itu memakan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya.

➡️ Biaya pelatihan bukan menjual ilmu,

tetapi menghargai perjalanan panjang dan tanggung jawab keilmuan.


2. Dalil Hadits: Ruqyah dengan Upah Dibenarkan Rasulullah ﷺ

Dalam sebuah hadits shahih, para sahabat pernah meruqyah kepala suku yang sakit, lalu diberi upah berupa kambing.

Ketika mereka ragu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa upah dari ruqyah adalah halal, bahkan beliau ikut menerima bagian tersebut.

Maknanya jelas:

Ruqyah adalah pengobatan

Pengobatan boleh diberi imbalan

Yang terlarang bukan upahnya, tetapi niat dan caranya

📌 Kesembuhan tetap dari Allah, bukan dari terapis.


3. Ilmu Gratis Tidak Selalu Dijaga

Fakta yang jarang disadari:

Ilmu yang terlalu mudah didapat sering diremehkan.

Banyak orang:

Mengikuti pelatihan gratis

Mengambil potongan ilmu

Lalu mengajar tanpa adab

Mencampur dengan ego dan ambisi

Akibatnya:

Pasien dirugikan

Ilmu disalahgunakan

Nama Islam tercemar

Dengan adanya biaya:

Murid lebih serius

Ada komitmen belajar

Ada tanggung jawab moral

➡️ Bukan soal uang, tapi soal adab.


4. Gratis Tidak Sama dengan Berkah

Berkah bukan diukur dari nol rupiah,

melainkan dari:

Keikhlasan

Kebenaran niat

Kesesuaian syariat

Adab guru dan murid

Banyak ilmu gratis di internet, tapi:

Tanpa bimbingan

Tanpa koreksi

Tanpa tanggung jawab

Dalam ilmu penyembuhan, ini sangat berbahaya.


5. Guru Juga Manusia yang Punya Amanah Dunia

Sering kali orang lupa:

Guru punya keluarga

Praktisi punya biaya hidup

Ada tempat praktik

Ada alat

Ada waktu yang dikorbankan

Menghargai itu bukan merusak keikhlasan,

tetapi bagian dari keadilan sosial.

Bahkan para ulama klasik hidup dari mengajar, menulis, dan berkhidmat kepada umat.


6. Perbedaan Antara “Menjual Ilmu” dan “Menjaga Ilmu”

Ini poin terpenting.

❌ Menjual ilmu:

Menipu

Janji palsu

Mengklaim kesembuhan mutlak

Memanipulasi ketakutan

✅ Menjaga ilmu:

Mengajar dengan adab

Membatasi murid yang siap

Menghindari penyalahgunaan

Menyandarkan hasil pada Allah

Ilmu sejati tidak diperjualbelikan,

tetapi dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah.


7. Bagaimana Sikap yang Bijak sebagai Penuntut Ilmu?

Bagi masyarakat dan pencari kesembuhan:

Jangan su’udzon

Jangan menghakimi

Lihat adab dan akhlak pengajarnya

Lihat apakah ia menyandarkan hasil pada Allah

Jika tidak mampu membayar:

Sampaikan dengan jujur

Banyak guru yang memberi keringanan

Allah Maha Membuka Jalan


8. Jika Ada yang Mengajar Gratis, Itu Mulia

Islam tidak melarang ilmu gratis.

Bahkan itu sangat mulia jika dilakukan dengan:

Ikhlas

Amanah

Bertanggung jawab

Namun Islam juga tidak mengharamkan ilmu berbayar jika:

Niatnya lurus

Metodenya benar

Tidak menipu

Tidak melampaui batas


Kesimpulan: Luruskan Cara Pandang

Pertanyaan “kenapa tidak gratis?”

sering lahir bukan dari niat buruk,

melainkan kurangnya pemahaman tentang adab ilmu.

Ilmu penyembuhan adalah amanah, bukan komoditas.

Yang dibayar adalah:

Waktu

Tenaga

Pengalaman

Tanggung jawab

Sedangkan kesembuhan tetap hak Allah sepenuhnya.

🤍 Yang terpenting bukan gratis atau mahal,

tetapi niat yang bersih, adab yang benar,

dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.


Penutup

Semoga artikel ini membuka wawasan,

melembutkan hati,

dan menghindarkan kita dari prasangka yang tidak perlu.

Karena ilmu tanpa adab adalah bahaya,

dan adab tanpa ilmu adalah pincang.

Baca juga ; Pertukaran energi antara Praktisi dan Pasien dalam terapi penyembuhan.