Mengapa Ilmu Ruqyah dan Terapi Energi Ada yang Berbayar? Penjelasan Bijak Menurut Islam, Adab Ilmu, dan Realita Praktik Penyembuhan
Pendahuluan: Pertanyaan yang Sering Disalahpahami
Di tengah maraknya praktik ruqyah, terapi energi, healing spiritual, dan pelatihan pengobatan islami, muncul satu pertanyaan yang sering terdengar:
“Kalau ilmunya dari Allah, kenapa harus berbayar?
Kenapa tidak digratiskan saja?”
Pertanyaan ini terlihat sederhana, namun sesungguhnya menyimpan ketidaktahuan tentang adab ilmu, sejarah keilmuan Islam, dan realitas tanggung jawab seorang pengajar.
Artikel ini tidak ditulis untuk membela satu pihak, melainkan meluruskan pemahaman, agar masyarakat tidak tergelincir pada prasangka, su’udzon, dan penghakiman yang keliru.
Ilmu Penyembuhan dalam Islam: Cahaya yang Membutuhkan Wadah
Dalam Islam, ilmu adalah cahaya (nur).
Namun cahaya tidak berdiri sendiri, ia membutuhkan:
Wadah
Penjaga
Penuntun
Amanah
Allah berfirman bahwa Dia meninggikan derajat orang berilmu. Namun derajat tinggi selalu disertai tanggung jawab besar.
Ilmu penyembuhan—baik ruqyah, terapi energi, maupun pengobatan spiritual—bukan sekadar bacaan atau teknik, melainkan:
Amanah terhadap keselamatan jiwa
Tanggung jawab terhadap akidah
Risiko kesalahan yang bisa berakibat fatal
1. Ilmu Penyembuhan Tidak Datang Seketika
Seorang praktisi ruqyah atau terapis energi tidak lahir dalam semalam.
Di balik seseorang yang mengajar, sering tersembunyi:
Bertahun-tahun belajar
Riyadhah (latihan batin)
Bimbingan guru yang ketat
Kesalahan, luka, dan proses penyadaran diri
Pengalaman menghadapi berbagai kondisi pasien
Semua itu memakan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya.
➡️ Biaya pelatihan bukan menjual ilmu,
tetapi menghargai perjalanan panjang dan tanggung jawab keilmuan.
2. Dalil Hadits: Ruqyah dengan Upah Dibenarkan Rasulullah ﷺ
Dalam sebuah hadits shahih, para sahabat pernah meruqyah kepala suku yang sakit, lalu diberi upah berupa kambing.
Ketika mereka ragu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa upah dari ruqyah adalah halal, bahkan beliau ikut menerima bagian tersebut.
Maknanya jelas:
Ruqyah adalah pengobatan
Pengobatan boleh diberi imbalan
Yang terlarang bukan upahnya, tetapi niat dan caranya
📌 Kesembuhan tetap dari Allah, bukan dari terapis.
3. Ilmu Gratis Tidak Selalu Dijaga
Fakta yang jarang disadari:
Ilmu yang terlalu mudah didapat sering diremehkan.
Banyak orang:
Mengikuti pelatihan gratis
Mengambil potongan ilmu
Lalu mengajar tanpa adab
Mencampur dengan ego dan ambisi
Akibatnya:
Pasien dirugikan
Ilmu disalahgunakan
Nama Islam tercemar
Dengan adanya biaya:
Murid lebih serius
Ada komitmen belajar
Ada tanggung jawab moral
➡️ Bukan soal uang, tapi soal adab.
4. Gratis Tidak Sama dengan Berkah
Berkah bukan diukur dari nol rupiah,
melainkan dari:
Keikhlasan
Kebenaran niat
Kesesuaian syariat
Adab guru dan murid
Banyak ilmu gratis di internet, tapi:
Tanpa bimbingan
Tanpa koreksi
Tanpa tanggung jawab
Dalam ilmu penyembuhan, ini sangat berbahaya.
5. Guru Juga Manusia yang Punya Amanah Dunia
Sering kali orang lupa:
Guru punya keluarga
Praktisi punya biaya hidup
Ada tempat praktik
Ada alat
Ada waktu yang dikorbankan
Menghargai itu bukan merusak keikhlasan,
tetapi bagian dari keadilan sosial.
Bahkan para ulama klasik hidup dari mengajar, menulis, dan berkhidmat kepada umat.
6. Perbedaan Antara “Menjual Ilmu” dan “Menjaga Ilmu”
Ini poin terpenting.
❌ Menjual ilmu:
Menipu
Janji palsu
Mengklaim kesembuhan mutlak
Memanipulasi ketakutan
✅ Menjaga ilmu:
Mengajar dengan adab
Membatasi murid yang siap
Menghindari penyalahgunaan
Menyandarkan hasil pada Allah
Ilmu sejati tidak diperjualbelikan,
tetapi dijaga agar tidak jatuh ke tangan yang salah.
7. Bagaimana Sikap yang Bijak sebagai Penuntut Ilmu?
Bagi masyarakat dan pencari kesembuhan:
Jangan su’udzon
Jangan menghakimi
Lihat adab dan akhlak pengajarnya
Lihat apakah ia menyandarkan hasil pada Allah
Jika tidak mampu membayar:
Sampaikan dengan jujur
Banyak guru yang memberi keringanan
Allah Maha Membuka Jalan
8. Jika Ada yang Mengajar Gratis, Itu Mulia
Islam tidak melarang ilmu gratis.
Bahkan itu sangat mulia jika dilakukan dengan:
Ikhlas
Amanah
Bertanggung jawab
Namun Islam juga tidak mengharamkan ilmu berbayar jika:
Niatnya lurus
Metodenya benar
Tidak menipu
Tidak melampaui batas
Kesimpulan: Luruskan Cara Pandang
Pertanyaan “kenapa tidak gratis?”
sering lahir bukan dari niat buruk,
melainkan kurangnya pemahaman tentang adab ilmu.
Ilmu penyembuhan adalah amanah, bukan komoditas.
Yang dibayar adalah:
Waktu
Tenaga
Pengalaman
Tanggung jawab
Sedangkan kesembuhan tetap hak Allah sepenuhnya.
🤍 Yang terpenting bukan gratis atau mahal,
tetapi niat yang bersih, adab yang benar,
dan tujuan mendekatkan diri kepada Allah.
Penutup
Semoga artikel ini membuka wawasan,
melembutkan hati,
dan menghindarkan kita dari prasangka yang tidak perlu.
Karena ilmu tanpa adab adalah bahaya,
dan adab tanpa ilmu adalah pincang.
Baca juga ; Pertukaran energi antara Praktisi dan Pasien dalam terapi penyembuhan.
